Refleksi Menuju Kepulangan: 4 Catatan dari Timur Indonesia

Penulis: Alvin Putra Sisdwinugraha, 27 August 2022
image
Menumpang buang air di Kali Passue, Kabupaten Mappi, Papua Selatan

Tak terasa perjalanan menyusuri pelosok Timur Indonesia tinggal 2 bulan lagi. Rasa tak sabar dan harap-harap cemas tentu menghantui seluruh Patriot di mana pun kami ditempatkan. Di saat yang sama, Seminar Nasional Patriot Energi yang di akhir bulan Agustus membuat saya semakin menyadari bahwa waktu saya di sini sudah tidak lama lagi. Sembari melepas banyak keresahan saya menghitung hari, saya berbincang dengan 3 orang kawan di 3 tempat bebeda: Nasrul di Pegunungan Arfak, Miqdad di Pulau Kimaam, dan Billy di Kepulauan Yapen. Obrolan kami yang kebanyakan tidak karuan mungkin bisa saya rangkum kurang lebihnya dalam 4 poin berikut ini.


Mari Meredefinisikan Elektrifikasi

Klaim elektrifikasi Indonesia 99,52% per Q1 2022 nampaknya tidak menjadi fakta yang kami temukan di lapangan. Namun, mungkin kami juga yang kurang paham akan definisi elektrifikasi, setidaknya versi pemerintah. Dengan hanya menghitung jumlah sambungan listrik per jumlah KK, tentu kita tidak memastikan kontinuitas maupun kualitas daya yang dikonsumsi dari angka tersebut saja. Sayangnya, angka rasio elektrifikasi tersebut terus menjadi berhala yang selalu dikejar apabila berbicara mengenai indikator keberhasilan pembangunan.

Mungkin saatnya kita mendefinisikan ulang persepsi kita mengenai elektrifikasi, karena kenyataannya pun juga bukan sebuah metrik yang mumpuni untuk menentukan titik keberadaan kemajuan pembangunan kita sekarang. Ada yang berwacana mengenai apakah soal konsumsi listrik per kapita, yang saat ini mencapai 1,09 MWh/tahun per kapita, dapat menjadi acuan pembangunan terkait listrik, meskipun tidak cukup menggambarkan disparitas antara si ‘kaya energi’ dan ‘miskin energi’. Kementerian ESDM pun juga memasukan aspek kualitas sambungan listrik ke dalam kriteria mencapai elektrifikasi 100% pada tahun 2022 ini. Apapun yang menjadi acuan, tentunya harus dapat menggambarkan paradigma negara akan cita-cita pembangunan, bukan?


Solusi Pukul Rata Ala Masyarakat Urban

Bicara soal paradigma pembangunan, pikiran saya selalu bertanya-tanya mengenai strategi apa yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat dalam memastikan pemerataan akses listrik? Bagaimana sinergi yang akan dilakukan oleh Kementerian ESDM sebagai stakeholder dengan PLN sebagai BUMN penyedia jasa kelistrikan? Pembangunan listrik di daerah 4T ini memang sangat runyam dalam hemat saya. Jikalau dengan subsidi penuh, neraca keuangan mana yang mampu menampungnya? Apakah PLN dengan utang Rp631,6 triliun nya? Atau neraca pemerintah dengan APBN yang baru-baru ini dikeluhkan oleh Menteri Keuangannya sendiri? Atau mulai mencoba mendobrak pihak swasta dan internasional melalui skema grants, green climate funding, atau semacamnya? Secara bisnis, tentu daerah 4T bukan pasar yang menarik. Namun bila bicara mengenai dampak, banyak sekali segi kehidupan yang bisa diperbaiki. Lagi pula, bukankah itu merupakan tanggung jawab sebuah negara untuk menyediakan penghidupan yang layak bagi seluruh rakyatnya? Seminar Nasional yang saya sebutkan sebelumnya pun harapannya tidak hanya jadi ajang adu ego dengan audiens yang itu-itu saja.

Tugas kami sebagai Patriot pun punya, dengan cara yang berbeda-beda: ada yang mengawasi pembangunan pembangkit terpusat, ada yang mengorganisasikan bentuk bantuan elektrifikasi lainnya (SPEL/APDAL/LTSHE), maupun yang membuat pra-studi kelayakan dari potensi energi lokal. Semuanya punya tujuan yang sama: pembangunan dan akses listrik yang lebih baik. Namun segelintir perbincangan sesama Patriot menemukan bahwa paradigma yang dibawa pun masih sentralistrik. Pembangunan yang menindak lanjuti kurang lebih 98 buah laporan pra-studi kelayakan tentu bukan barang mudah. Tentu akan jadi sia-sia apabila solusi tindak lanjut yang ditawarkan selalu solusi “tambal bahan” macam LTSHE dan SPEL/APDAL yang tidak melihat akar permasalahan secara lokal. Pembangunan PLTS terpusat skala besar pun hanya akan menjadi berhala apabila dilakukan tanpa melihat konteks persepsi masyarakat setempat akan energi itu sendiri.


Warna-warni Para Patriot

Ada yang tinggal di rumah warga dan aparat lokal, ada yang bersama dengan sesama pendatang (guru, tenaga kesehatan), ada dipinjamkan rumah tersendiri (termasuk saya), namun semua memiliki satu kesamaan: kita hanya menumpang di tempat orang lain. Keseharian yang terlalu dekat dekat dengan masyarakat tentu menyirapkan karakter asli seseorang. Begitu pula saya yang semakin lebih kenal dengan siapa diri saya sesungguhnya di tengah lingkungan yang benar-benar baru. Saya mencoba terus menembus batas diri saya, memperkaya diri dengan pengetahuan dan khazanah lokal. Pekerjaan seperti ini memberikan saya sebuah kanvas kosong yang dapat saya corat-coret sesuka hati saya. Saya dapat berkreasi sesuai apa yang saya pandang benar, tanpa perlu banyak memikirkan target maupun pencapaian. Inilah yang saya inginkan: sebuah kesempatan untuk gagal dan belajar sebanyak-banyaknya, membentuk warna saya sendiri.

Tinggal bersama dengan orang-orang lain selama hampir 1 tahun membuat saya melihat bahwa rekan-rekan saya memiliki warnanya masing-masing. Ada yang selaras dengan saya, ada pula yang tidak. Kadang hal ini membuat saya sedih dan kesepian. Saya kira, semua orang yang hadir memakai seragam Patriot memiliki cita-cita yang sama mengenai hidup yang bermakna bagi orang lain. Namun tak ada salahnya berteman dengan rasa sunyi. Mengubah warna orang lain pun juga bukan sebuah pilihan yang bijak, karena saya sendiri tidak ingin menjadi seorang fasis. Toh pada akhirnya, warna yang selaras akan saling mempertemukan dirinya, sama seperti saya dan 3 orang kawan saya ini.


Setelah Patriot, Lalu Apa?

Mungkin dari segala topik, inilah yang memakan waktu paling banyak. Pengalaman satu tahun ini pun cukup membuat kami berpikir panjang tentang apa yang kami mau setelah ini. Kalau boleh jujur, saya ingin melukis kanvas ini seluas-luasnya, belajar sebanyak-banyaknya soal hidup yang lebih bermakna. Kekhawatiran mengenai kenyamanan hidup sepertinya bukan menjadi penentu arah utama hidup, tidak lagi seperti saya 5 tahun yang lalu. Bukannya saya anti kemapanan, namun nampaknya pengalaman satu tahun ini memberikan saya pelajaran bagaimana menjadi manusia yang tidak kufur nikmat. Makan kenyang dan tidur nyenyak sepertinya sudah menjadi pondasi yang cukup untuk bisa menjalani hari. Tinggal bagaimana mengisi sisa waktu dalam satu hari tersebut, dan saya tidak melihat bagaimana menjadi sebuah pelumas gerigi-gerigi korporasi bisa membentuk saya menjadi manusia yang utuh. Ya, setidaknya sampai saat ini, kami berempat masih berpandangan seperti itu.

Sayangnya, kami tidak hidup sendiri. Ada keluarga, kawan dan kerabat, serta kebutuhan membina keluarga baru yang akan kami hadapi. Hidup sendiri di jalan sunyi memang sebuah pilihan, namun saya rasa bukan pilihan utama. Salah seorang teman saya ini berkata bahwa memilih pasangan hidup sesama Patriot bisa jadi adalah sebuah solusi. Tapi saya sendiri skeptis, berapa orangkah yang akan tetap berjalan di jalan sunyi ini? Mungkin kebingungan ini tidak perlu kami hadapi kalau kami memilih untuk membunuh kepekaan kami dan menyerah terhadap keduniaan. Entahlah.

 



Samurukie, 27 Agustus 2022

Di tengah genset kampung yang kebetulan menyala