Warisan Budaya dan Kekhasan Kabupaten Kapuas Hulu

Penulis: Angelina Yosephine, 13 May 2022
image
Patriot Enji dan Keluarga barunya

 dai-bolong-pambean

 Tampak depan Rumah Betang “Dai Bolong Pambean”

 

Sebagaimana diketahui, Rumah Panjang atau Rumah Betang adalah Rumah Adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat permukiman suku Dayak.

 papan-nama

 Papan Informasi Situs/Bangunan Cagar Budaya

 

Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean adalah Rumah Betang tertua di Kabupaten Kapuas Hulu. Rumah Betang ini dimiliki oleh Suku Dayak Tamambaloh Apalin yang mayoritas beragama Katolik. Lebih tepatnya terletak di Desa Banua Tanga, Kecamatan Putussibau Utara. Rumah Betang ini adalah warisan leluhur (nenek moyang) yang didirikan pada tahun 1864 oleh Bakik Layo, dan saat ini sudah dilakukan dua kali renovasi, yang pertama pada tahun 1940 dan yang kedua pada tahun 2005. Bangunan ini sudah berumur dan sudah termasuk cagar budaya, sehingga harus dijaga keberadaaan yang tidak ternilai harganya ini.

  sisi-samping-betang


Sisi samping Rumah Betang

 

Kita sangat takjub melihat keindahan dan arsitektur bangunan Rumah Betang yang haruslah menghadap timur di bagian hulunya dan menghadap barat untuk bagian hilir, karena melambangkan kerja keras masyarakat dayak yang bekerja sejak matahari terbit dan kembali ke rumah betang saat matahari terbenam untuk beristirahat. Rumah betang dengan model memanjang sekitar 150 meter ke samping, 30 meter ke belakang serta memiliki pondasi tiang lebih tinggi daripada rumah biasa sekitar pada umumnya yaitu sekitar 10 meter. Tiang pondasi ini terbuat menggunakan kayu belian atau kayu ulin dengan diameter 70-100 cm dan panjang sekitar 20 meter.

 tiang-peluk

 Diameter batang pohon yang menjadi tiang Rumah Betang tidak dapat dipeluk sepenuhnya


 ketinggian-betang

 Ketinggian dasar Rumah Betang dari tanah sekitar 4 meter

 

Para tetuah mereka sengaja membangun dengan model seperti ini karena kondisi zaman dahulu tidak aman, yang pertama untuk mencari keselamatan dari binatang buas yang masih banyak berkeliaran di hutan Kalimantan, yang kedua, menghindari musuh yang ingin menombak penghuni rumah dari bawah bangunan tersebut, dan yang ketiga adalah sebagai bentuk adaptasi dari kondisi lingkungan yang berada di hulu sungai. Sehingga ketika air meluap, isi rumah tidak kebanjiran.

Dan kondisi bangunan tersebut memanjang mempunyai alasan khusus yaitu mencerminkan mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari yaitu untuk menjaga persaudaraan, gotong royong, tolong menolong, persatuan dan kekompakan antar sesama, sehingga pemerataan derajat kehidupan sesama penghuni rumah panjang yang dituangkan dalam hukum adat.


Bentuk Rumah Betang yang megah dan tinggi ini tentu saja membuatnya perlu menaiki anak tangga yang berjumlah ganjil tetapi umunya berjumlah 3 yaitu berada di ujung kiri dan kanan, satu lagi di depan sebagai penanda agar dapat masuk. Alasannya berjumlah ganjil supaya rezeki mudah datang ke semua penghuni rumah dan dijauhkan dari kesulitan hidup.

  

 tangga-betangg

  Tangga yang berada ditengah Rumah Betang yang berjumlah 19 anak tangga.

tangga-betang

  Tangga ini sudah dibuat pada tahun 1986 dan dipindahkan ke Rumah Betang ini pada tahun 2007.

 

Ketika sudah berada dirumah panjang, maka kita akan disambut dengan hangatnya pembicaraan, akrabnya pelayanan, sopannya perlakuan, dan dilayani bagaikan seorang raja. Ketika kita melewati teras dari setiap pintu terpancar banyak hiasan aksesoris seperti patung, ukiran, pernak-pernik lainnya, juga kepedulian dengan penuh cinta kasih. Penduduk lokalnya membuat kita merasa nyaman karena keramahannya. Karena keasliannya inilah, banyak turis mancanegara berbondong-bondong datang untuk melihat langsung bangunannya, untuk tinggal, serta belajar budaya Suku Dayak.

 

20211218-122301Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan berkunjung ke Rumah Betang untuk meresmikan Buku Adat.

 

Di masa lalu, Rumah Betang ini menjadi pusat kegiatan masyarakat Dayak seperti balai pertemuan masyarakat, pusat beberapa kegiatan seni, budaya, sosial, sehingga dibangun sangat besar karena bisa dihuni ratusan orang atau puluhan kepala keluarga. Dalam rumah yang besar itu juga terdapat ruangan untuk dihuni oleh warganya lengkap dengan dapur dan selasar memanjang untuk masing-masing keluarga. Dan biasanya diberi sekat-sekat pada tiap ruang untuk memberikan privasi kepada setiap keluarga. Dan kelestarian serta budaya di Rumah Betang masih terjaga hingga saat ini.