Mimpi Anak Klawak

Penulis: Hallimah Sa'diyah, 28 March 2022
image
Siswa Kelas 5 dan Kelas 6 SD Inpres 45 Klawak Kabupaten Sorong Menuliskan dan Menceritakan Cita-Cita

You’re not the only one who doesn’t know the end.” (BTOB-It’s All Good)

Hal yang paling pertama muncul ketika orang luar Papua yang belum pernah tinggal di Papua membicarakan Papua adalah KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata). Belakangan ini media memang sering mem-blow up berita terkait kericuhan yang ditimbulkan oleh kelompok bersenjata di Papua tersebut. Tidak bisa dipungkiri, memang benar adanya bahwa kelompok kriminal bersenjata melakukan tindak kejahatan di beberapa wilayah Papua. Dari bulan Januari sampai Maret 2022, KKB Papua tercatat telah melakukan tujuh kali tindakan teror dan menyebabkan 13 orang tewas dan lainnya luka-luka [1]. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa kelompok kriminal bersenjata ini hanya sebagian kecil dari masyarakat Papua dan tidak mencerminkan sikap keseluruhan warga Papua. Di tanah Papua juga sama seperti di tempat lainnya di seluruh Indonesia, yang mana ada begitu banyak orang dewasa yang bersikap baik walaupun memang tidak semua orang dewasa memiliki perilaku baik.

Lalu, bagaimana dengan kondisi anak-anak di tanah Papua? Disini, saya tidak bisa memaparkan keseluruh anak-anak di Papua, tetapi hanya anak-anak di Distrik Klawak, tepatnya siswa-siswi di SD Inpres 45 Kabupaten Sorong. SD Inpres 45 Kabupaten Sorong hanya memiliki 4 ruangan, yang mana satu ruangan digunakan sebagai kantor dan tiga lainnya sebagai kelas. Hal ini berarti dalam satu ruangan terdapat siswa-siswi dari dua tingkatan kelas yang berbeda. Meskipun begitu, siswa-siswi di SD Inpres 45 Kabupaten Sorong tetap semangat untuk belajar bersama dengan bapak dan ibu guru.

Kesan pertama yang saya dapatkan ketika saya ikut membantu mengajar di SD Inpres 45 Kabupaten Sorong adalah kondisi lingkungan sekolah yang menyenangkan. Sedangkan hal yang membuat saya cukup terkejut adalah betapa sopannya siswa-siswi SD Inpres 45 Kabupaten Sorong. Mereka sangat menghargai dan mendengarkan himbauan dari guru mereka dan cukup disiplin dalam melakukan kegiatan-kegiatan di sekolah. Ketika waktu istirahat habis dan sudah waktunya untuk masuk kelas, mereka akan langsung meninggalkan permainan mereka, walaupun saat itu mereka sedang ada di tengah-tengah permainan catur. Memang, terkadang ada satu atau dua anak yang masih kurang dalam menuruti perintah, namun rekan-rekannya akan terus mengingatkan (walau peringatan yang diberikan temannya tersebut biasanya berupa teriakan atau sekedar memberikan "pukulan cinta", namun di sini mereka memang terbiasa berkata dengan lantang dan hal itu untungnya tidak memberikan dampak psikologis yang besar pada anak).

Hal lain yang membuat saya terkesan adalah sikap tanggung jawab yang mereka punya. Ketika saya membawakan buku cerita bergambar atau mainan anak berupa puzzle dan jumlahnya kurang dari jumlah siswa di kelas. Mereka akan dengan sukarela berbagi bersama temannya ketika saya meminta mereka untuk berbagi. Dan ketika waktu belajar selesai dan saya meminta untuk mengembalikan mainan dan buku tersebut, mereka akan mengembalikan mainan dan buku tersebut walaupun mereka masih ingin menggunakannya. Begitu pula ketika waktunya jam istirahat, siswa-siswi SD Inpres 45 Klawak suka bermain bola sepak, bola voli, atau catur yang disimpan di kantor guru. Ketika waktu istirahat habis, mereka akan dengan sukarela mengembalikan barang-barang tersebut ke ruang kantor dengan sebelumnya mengecek kondisi dan kelengkapan barang-barang yang mereka gunakan/pinjam.

Mereka juga merupakan siswa-siswi yang pintar, tentu saja kepintaran mereka tidak akan sama dengan kepintaran anak-anak di luar Papua yang bisa mendapat akses pendidikan yang lebih baik. Sebagian besar siswa dari kelas 4 ke bawah memang masih belum lancar membaca dan menulis, namun mereka cukup pintar dalam menghitung. Bahkan menghitung menjadi pelajaran favorit mereka, termasuk untuk siswa-siswi kelas 2. Di akhir kelas siswa-siswi kelas 2 bahkan meminta diberikan PR, dan sebagian dari mereka ada yang langsung mengerjakan PR nya saat itu juga. Saya bisa melihat bahwa mereka memiliki semangat belajar yang cukup tinggi dan beberapa dari mereka ada yang memiliki bakat dalam belajar (pintar) dan memiliki pandangan yang kritis yang mana sebagian besar anak-anak sekolah dasar di Jawa pun tidak memilikinya.

Saya tidak tahu, perasaan kagum yang saya rasakan saat ini apakah karena saya yang sudah terlalu lama tidak berinteraksi dengan anak-anak usia sekolah dasar sehingga saya melupakan bahwa anak-anak sekolah dasar bisa begitu bertanggung jawab? Atau memang sebenarnya sangat jarang bagi anak-anak sekolah dasar untuk bisa memiliki sikap tersebut. Dan saya rasa saya setuju dengan pemikiran tersebut, bahwa kebanyakan anak-anak di usia sekolah dasar tidaklah memiliki sikap yang begitu dewasa. Oleh karena itu, saya merasa takjub bisa bertemu dengan anak-anak sekolah dasar yang memiliki kualitas karakter luar biasa ini, apalagi saya menemukannya di pelosok Papua. Namun, pertumbuhan karakter anak tersebut akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana mereka tinggal. Hal ini dikarenakan lingkungan sosial memiliki peran sangat penting terhadap perkembagan anak, terutama dalam pembentukan karakter anak.[2] Saya hanya berharap semoga bibit-bibit baik mereka akan terus tumbuh dan mendapat dukungan dari lingkungan sekitar dan pemerintah.

 

Referensi:

 

[1] Nurmansyah R. 2022. "Dukung Panglima TNI, Wakil Ketua MPR: KKB Papua Harus Segera Ditumpas Secara Tegas", diakses dari https://jakarta.suara.com/read/2022/05/16/210000/dukung-panglima-tni-wakil-ketua-mpr-kkb-papua-harus-segera-ditumpas-secara-tegas

[2] Zahroh S dan Na’imah. 2020. Peran Lingkungan Sosial terhadap Pembentukan Karakter Anak Usia Dini di Jogja Green School. Jurnal PG-PAUD Trunojoyo : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini. 7 (1): 1 –9