Pengalaman Pertama Pembukaan Lahan Untuk Berkebun

Penulis: Muhammad Hanif Akbar, 15 October 2022
image
Kegiatan pembersihan yang dilakukan oleh dua pemuda

Saat pagi menampakkan dirinya melalui cahaya matahari yang terbit di ufuk timur, saya sudah terjaga dari tidur. Dilihatnya sekeliling rumah dari teras rumah. Tanpa tersadar kalu hari itu sekolah libur, setiap pagi banyak masyarakat yang lewat lalu lalang di depan rumah. Sampai ada beberapa masyarakat yang lewat di depan rumah membawa parang,tanpa pikir panjang saya mengikuti langkah mereka tanpa tahu mau kemana mereka pergi. Saat berhenti di pinggir jalan, saya bertanya kakak mau kemana kah?, saya boleh ikut kah? Lalu ada seseorang lelaki muda yang menjawab, mereka akan kerja buka lahan untuk kebun baru, mereka bilang tempatnya dekat saja, tapi kalau menurut saya itu lumayan jauh, akhirnya saya dibolehkan untuk ikut dengan mereka.

Kebunnya ini berjarak sekitar dua kilometer, tetapi karena kontur jalan yang menanjak membuat jarak yang kelihatannya pendek tetap menguras tenaga, kami berjalan beriringan. Sampai di satu titik kita turun ke bawah memlalui jalan tikus. Jalan yang kecil dan licin mengakibatkan saya terpeleset beberapa kali saking licinnya, sehingga saya memutuskan untuk melepas alas kaki yang saya pakai. Kami melewati jalan yang miring, kebetulan lokasi kebun ini ada di daerah yang miring, sehingga kalau tidak hati-hati kita bisa jatuh terguling sampai ke bawah. Saya sendiri kaget, kenapa bisa mereka berkebun di daerah yang miring. Waktu itu kebetulan saya tidak membawa parang untuk ikut memebersihkan pohon-pohon yang ada serta akar-akar serabut yang menutupi permukaan tanah, sehingga saya di kasih pinjam parang yang mereka bawa. Kami bekerja sama ada yang membersihkan di sisi kiri dan ada juga yang membersihkan di sisi kanan. Kami semua berjumlah lima orang, dua orang dewasa dan tiga orang remaja termasuk saya. Setelah beberapa lama kami membersihkan, tiba waktunya istirahat karena memang pohon serta akar-akar yang ada sangat banyak terlebih akar serabut ini bisa mempunyai tebal sekitar satu sampai dua jengkal jari saya karena akar ini sudah berusia sangat lama sehingga sukar untuk dibersihkan dengan cepat. Mereka beristirahat dengan membuat kukubima di campur susu kental manis, minuman ini menjadi hidangan afdol yang harus ada saat mereka bekerja selain extra jos susu. Tidak tahu mengapa masyarakat di sekitar dogiyai gemar sekali mengkonsumsi minuman seperti ini, mungkin karena menyegarkan, terlebih mereka mungkin tdak tahu konsekuensi jangka panjang mengkonsumsi minuman seperti ini. Saat saya di kasih gelas berisi kukubima susu itu, saya hanya menerima dan meletakannya karena waktu itu sedang bulan ramadhan, mereka juga mungkin tidak tahu kalau saya sedang berpuasa. Selain minuman kukubima saya juga di kasih ubi bakar dan roma kelapa yang mereka siapkan untuk bekal bekerja. Kami bekerja dari sekitar jam 10.00 pagi sampai jam 15.00 sore, beberapa kali saya harus beristirahat karena memang matahari sangat terik dan membuat saya merasa semakin haus dan lemas. Tidak lupa juga setelah selesai membersihkan area kebun itu saya dikasih satu ikat sayur yang baru dipetik oleh mama.

Nantinya area kebun yang baru dibersihkan ini akan ditanami berbagai tanaman, seperti; ubi, keladi, singkong, kacang tanah dan berbagai sayuran yang biasa mereka konsumsi untuk kebutuhan pangan mereka sehari-hari. Karena masyarakat hanya mempergunakan hasil kebunnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, masyarakat belum menjual ke pasar yang ada di distrik mapia atau pasar yang ada di pasar moanemani, karena jalur transportasinya masih susah dan ongkos untuk kendaraan umum masih mahal apalagi dengan kenaikan harga bbm, mengakibatkan ongkos yang tadinya lima puluh ribu sekarang naik menjadi tujuh puluh ribu sekali jalan, semoga pemerintah memperhatikan masyarakat kecil atas konsekuensi kenaikan harga bahan bakar.