Kesenjangan Listrik dan Air

Penulis: Fitria Siti Fatima, 05 October 2022
image
Penerangan dari PLTS Terpusat 10 kWp

Tidak perlu terlalu jauh membahas kesenjangan dalam tingkat negara atau tingkat provinsi. Kesenjangan juga dapat terjadi di tingkat desa. Salah satu contohnya adalah yang terjadi di Desa Oka Wacu, Kecamatan Katiku Tana Selatan, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Salah satu penyebab kesenjangan adalah fokus pembangunan fasilitas umum. Kasus yang terjadi di Desa Oka Wacu adalah kesenjangan antara dusun 1 dengan dusun 2 dan 3. Masyarakat dusun 2 dan sebagian dusun 3 mendapatkan fasilitas listrik dari PLTS terpusat. Setiap rumah mendapatkan 3 bola lampu. Jika cuaca panas dan terik, PLTS beroperasi mengalirkan listrik dari pukul 18.00 WITA sampai dengan 23.00 WITA. Selain itu, dusun 2 dan 3 juga mendapat layanan Pamsimas yang menggunakan PLTS. Keran umum Pamsimas berjumlah sebanyak 6 titik yang tersebar di dusun 2 dan 3. Air mengalir di keran umum Pamsimas mulai dari 08.00 WITA saat matahari telah bersinar terang.


Fasilitas umum listrik dan keran air Pamsimas hanya dapat dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat di Dusun 2 dan 3. Sedangkan masyarakat Dusun 1 masih menggunakan pelita dan harus menimba air di sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk sehari-hari. Masyarakat di dusun 1 harus menumpang di rumah keluarga yang berada di dusun 2 dan 3 untuk mengisi arus barang elekteronik atau bahkan harus pergi ke rumah keluarga di desa tetangga yang telah mendapatkan layanan listrik PLN. Desa tersebut adalah Desa Dasa Elu yang berjarak kurang lebih 5 km dari Desa Oka Wacu. Bahkan ada pula warga yang mengisi arus listrik barang elektronik di Ibukota Kabupaten, yaitu Anakalang. Pengisian arus barang elektronik bisa dilakukan di kios-kios yang menyediakan jasa pengisian arus.