“Perjalanan Sunyi yang Mengubah Mindset Ku”

Penulis: Mashudi, 28 September 2022
image
Perjalanan Menuju Desa Live In

Hari ini genap dua bulan saya tinggal di desa live in, kesulitan dan ketidakpastian mulai datang satu per satu. Merasa asing ditengah-tengah masyarakat adat yang berbeda bahasa, suku,kepercaaan dan kebiasaan, rasa-rasanya sulit sekali untuk bisa masuk di tengah-tengah mereka apalagi dengan idealisme yang saya pegang teguh, ditambah hukum adat yang mengikat sehingga lebih berhati-hati dalam berkata dan bertindak mempersempit ruang gerak masuk ke masyarakat. Sebuah desa adat Dayak diatas gunung yang jauh dari hirup pikuk kota, tanpa listrik,tanpa sinyal, akses jalan yang sulit dan sendiri tanpa seorangpun teman untuk hanya sekedar bercerita, serasa diri ini terjebak dalam situasi kondisi yang sulit untuk dijelaskan. Mencoba bertahan namun bayang-bayang situasi kota dan kemudahan fasilitas terus menghatuiku, seakan-akan mengajakku untuk segera keluar dari desa ini hanya sekedar menenangkan diri, namun ternyata hal tersebut bukan sebuah solusi karena akan terus mempersulit beradptasi kedepanya. Terbayang bagaimana perempuan dalam program ini, sendiri masuk ke wilayah desa pedalaman yang tertinggal rentan akan keamanan mereka sendiri, tapi mereka bisa bertahan dan mampu beradaptasi, hal tersebut memotivasi dan memperkuat tujuanku berada disini.

           Satu hari yang dapat mengubah perjalanan ini menjadi lebih bermakna dan indah, hari ini patut untuk disyukuri. Sebuah pristiwa di sore hari sepulangnya dari kecamatan setelah membeli kebutuhan logistic ditengah perjalanan diselimuti hujan deras dan angin kencang, tiba-tiba motor yang saya kendarain tergelincir hampir masuk kedalam jurang, karena jalan menuju desa yang rusak parah sehingga bagi saya seorang pemula sangat sulit melewati jalan tersebut. Saya mencoba mengangkat dan menghidupkan kembali sepeda motor, namun tidak bisa dihidupkan, berkali-kali diengkol tidak kunjung hidup juga, akhirnya saya mencoba mendorong sekuat tenaga agar bisa hidup akan tetapi saya terpeleset lagi hingga tertimpa motor, ditengah hujan deras, sore hari ditengah hutan tak ada satu orangpun yang lewat untuk meminta bantuan. Perasaan yang sudah campur aduk, marah, takut, sedih, mengutuk keadaan, berkali-kali meratapi kenapa saya bisa berada disini. Akhirnya saya bangkit kembali, mendirikan motor yang menimpa betis kanan saya, dengan rasa kesal saya putuskan untuk kembali ke kota kabupaten dalam waktu yang lama. Naumun, ditengah deras hujan, baju basah kuyup terlintas dibayangan wajah anak2 desa yang tersenyum riang, sambutan hangat warga desa dan harapan-harapan warga desa yang terus membayangi sehigga tiba-tiba membuat tangisku pecah ditengah hujan deras. Selalu menyesali kenapa selalau berfikir untuk menghindar dan mencari kenyamanan dikota sedangkan ada masyarakat yang membutuhkan bantuan dan pedampingan. Pada akhirnya saya menunggu hujan reda dibawah pohon sembari menunggu dan berharap ada warga desa yang lewat membantu menghidupkan motor. Hampir satu jam menunggu kedingianan akhirnya ada masyarakat yang lewat dapat membantu memeperbaiki motor dan motorpun bisa jalan kembali.

           Diperjalanan pulang kedesa terbesit sebuah pemikiran yang unik membawa kembali kemasa anak-anak dahulu, saya sangat mengagumi dan senang dengan kompetisi motor trail, sehingga ini merupukan kesempatan bagi saya menyalurkan impian saya, didukung kondisi jalan dan motor yang mirip dengan motor trail, sehingga saya membalikan maindset saya yang tadinya penuh dengan kegalutan kini beubah menjadi keseruan dan tantangan yang asik untuk dijalani, begitu seterusnya kegiatan lainya juga dilewati dengan semangat dan kesulitan sedikit demi sedikit mulai terurai, dengan mengubah maindset kearah yang lebih positif dan berfikir disetiap kesulitan pasti ada kemudahan akan jauh lebih mudah pendekatan kepada masyarakat dan menjalani hari-hari bersama masyarakat menjadi lebih berwarna. Pada moment ini menjadi titik balik sebuah perubahan pemikiran yang berdampak besar terhadap pembawaan diri ditengah-tengah masyarakat. Sebelum melakukan pendampingan masyarakat saya harus selesai dengan diri sendiri sehingga akan jauh lebih berdampak kedepanya.