MENOPANG PENDERITAAN SENDIRI

Penulis: Siti Resa Sari Bulan, 08 September 2022
image
bapak


Tak kusangka penderitaan semakin menjadi, takdir hidup yang mungkin memang seraya aku dapatkan di tanah papua menjadi sejarah baru dalam hidupku. Untuk pertama kalinya, tidak ada rasa inginan kembali untuk datang .

Rambut kembali kupotong tanpa ku beri ia celah untuk memanjang, tanpa riasan apapun ku berjalan mengintari jalan raya, mobil motor lalu lalang tak ku hiraukan, dengan rasa takut seraya berkata dalam hati “ Semoga semesta selalu menjaga perjalanan ini hingga aku dapat keadilan”.

Bait terakhir dalam hidup mungkin tidak sesuai dengan kejadian yang menimpa hidupku, begitu indah dan menyenangkan hati. Semua terasa cepat dan membingungkan. Aku Nampak pucat dan gelisah setiap malam, tidak tahu harus berpangku kepada siapa dan harus apa. Pergi kesana kemari mencari pertolongan, entah tidak ada orang yang mau dengar. Setiap malam ketakutan, dan rasa takut itu sangat sulit aku pendam seorang. Kulawan dengan penuh susah payah namun kembali dipatahkan. Aku bagaikan binatang jalang yang hidup tidak tahu jalan pulang, dan tidak tahu tujuan. Hanya ingin mati dan merasa tenang. Sesekali ku hela nafas perlahan, perasaan ini memang sulit diraba oleh perasaan manusia, sunggu sulit. Binatang itu hanya dapat mengolok dan tertawa puas, aku bagaikan mainan yang hanya jadi pajangan.

aku tidak bisa bicara apapun. Dengan siapapun aku tidak percaya! Mereka hanya mengolok dan mencaci

Aku binatang jalan yang hidup bagaikan mayat anjing yang terbuang, tergeletak dengan penuh lalat di badan. Berjalan terseok seok tanpa suara. Hatiku meronta, sekali lagi siapa yang peduli ?! ku ucapkan pada penderitaan, bahwa akan aku akhiri penderitaan ini malam nanti. tuhan ku tahu mengakhir hidup adalah perbuatan keji, dan perilaku itu sepatunya tidak terjadi. Aku menyadari, namun rasa sakit dan kekecewaanku tidak kunjung usai, Tuhan.

Tuhan, Kepada siapa aku berpangku ?!

Beri aku obat penenang untuk aku bisa lupakan semuanya. Bait yang menyakitkan dibulan bulan sebelumnya.

Aku tidak bisa selalu bersembunyi dalam diam , mati hari ini ataupun esok itu sama saja !

Luka akan selalu sama!

Mengerogoti hingga tidak ada lagi yang tersisa.

Nafas bait tak bisa aku tuntaskan_ hingga malam-malam berikutnya.

Ku tuturkan maaf, pada mereka yang harus kecewa untuk kesekian kalinya.