Sejarah Terbentuknya Desa Paking di Malinau Nih Seru Juga!

Penulis: Ida Bagus Yogesvara Qadha, 05 September 2022
image
Suasana Pagi Hari Desa Paking

Sejarah Desa Paking

           Penelusuran tentang sejarah Desa Paking tidak dapat diketahui secara pasti nya. Sampai sekarang inipun informasi yang ada cuma beberapa keterangan dan penjelasan yang dikumpulkan dari nenek moyang dan sesepuh yang masih ada saat itu dan didapat secara turun temurun tentunya, serta dari tanaman keras dan kuburan yang masih ada sampai saat ini loh. Berdasarkan hal itu sekilas cuplikan sejarah Desa Paking sebagai berikut:

           Sebelum terwujudnya Desa Paking ini menjadi sebuah desa guys, daerah ini tuh tadinya merupakan hutan belantara yang lebat banget pokoknya masih asri gitulah. Dahulu kala banget nih daerah ini banyak ditumbuhi pepohonan yang gede-gede gitu dan banyak dihuni sama hewan buasnya pada saat jaman itu. Orang yang pertama kali membabat hutan (disebut ngengimah, dalam bahasa Dayak Abai istilah itu menjelaskan cara membuka lahan yang baru untuk dijadikan tempat pemukiman guys). Pada waktu itu pokoknya udah lama banget ada seorang sesepuh namanya Ibung Lasung bersaudara dan keluarga yang melakukan ngengimah di tanah yang bernama Siang Sanit.

           Daerah yang dibabat pertama kalinya yaitu, kawasan sebelah barat (Siang Sanit). Sebabnya di kawasan ini dulunya banyak banget kutu babi hutan (Sanit, dalam bahasa Abai). Makanya dari situ daerah ini dinamakan Lung Sanit sampai sekarang sih. Peristiwa ini katanya terjadi pas sekitar tahun 1925. Selanjutnya, Ibung Lasung bersaudara membabat hutan di sungai Tubu yaitu Tulid Kelemuku. Mereka pergi kesana karena adik perempuannya Ibung Lasung yang bernama Suki Lasung diperistri oleh Raja Sebelanung yang bernama Tangga Kelit. Peristiwa ini jadi bikin Ibung Lasung sebagai kakak ipar diberikan daerah Siang Sanit sebagai jujuran (disebut juga Purut atau uang hangus dalam bahasa indonesia sebagai prasyarat apabila seseorang ingin melamar gitu). Daerah yang diberikan mulai dari Siang Lanjat sampai Siang Tekolo.

           Di setiap bekas ladang juga disebut (Talun dalam bahasa Abai). Terdapat tanaman buah-buahan dan masih ada sampai sekarang ini guys. Dikarenakan daerah itu tuh gak layak untuk dijadikan tempat pemukiman, maka Ibung Lasung serta keluarganya membabat hutan Rasandan Bunau.  Di kawasan ini mereka hidup cukup lama. Mereka juga membabat hutan sebelah utara yaitu daerah dari Alung, Siang Jempolan sampai Alung Siang Bulu.

           Setelah menetap beberapa tahun di daerah ini, mereka berpindah lagi ke Temunung Paking dan daerah garapannya yaitu Sumil, Sapai dan Siang Mamu. Pada tahun 1940 terjadi peristiwa banjir besar sehingga banyak menimbulkan kerugian pada Ibung Lasung bersaudara yang bermukim di Temunung Paking. Semua barang berharga milik mereka seperti gong, tempayan kuno, pondok dan lainnya hanyut terbawa arus banjir waktu kejadian itu guys.

           Setelahnya, mereka memutuskan mencari daerah yang lebih tinggi datarannya dari daerah sebelumnya itu. Maka pindahlah mereka ke daerah Alung Futa. Futa dalam Bahasa Dayak Abai berarti busa atau buih. Alung Futa artinya muara sungai yang berbusa atau berbuih airnya. Sekitar tahun 1941 satu-satunya orang yang hidup di muara sungai / Alung Semolon adalah Iwang dan istrinya Ibon. Mereka memiliki satu anak perempuan yang diberi nama Layang, yang sering disebut Layang Wang. Layang diperistri oleh Raja Alung Nit (Tubu) yang bernama Yasung. Sebenernya gak ada referensi tertulis ataupun cerita sesepuh untuk mengetahui latarbelakang Iwang. Okee lanjut ceritanyaaa, Oleh karena itu Ibung Lasung gak mau bermasalah dengan kawasan pemukiman di kemudian hari, maka mereka membebaskan kawasan atau hutan kepada Layang Wang. Daerah yang dibeli dari Layang Wang adalah daerah sebelah barat, mulai dari Sungai Ketuan, Sanit, Temadung, Jemolon, Sedemali, Sanar – Sangkalibon, sampai Nekadan Kecil dengan tebusan dua buah gong dan dua tempayan kuno (dalam Bahasa Abai disebut Sandut Laid). Sedangkan, sebelah selatan dari Beluku Masin, Luwong, Sempayang, Sapung, Semolon sampai Sungai Batu besar (disebut Tubu dalam Bahasa Abai) dengan tebusan dua buah Agung Sulok, satu buah Sanduk-Kuda dan dua buah Rifon. Semua barang barang tersebut diserahkan Ibung Lasung kepada Layang Wang.

           Setelah itu, barulah mereka bebas berladang sehingga setiap Talun (bekas ladang) selalu mereka tanami buah-buahan seperti durian, lai, cempedak, langsat dan lain-lain. Kemudian Ibung Lasung bersaudara dan keluarganya mendirikan perkampungan Futa yang sekarang menjadi Desa Paking. Nama Paking diambil dari daerah tempat tinggal Ibung Lasung sebelumnya guna menghormati daerah tersebut guys.

           Menurut sejarah, Belanda masuk Pulau Borneo (Kalimantan Timur) pada tahun 1944 dan Jepang pada tahun 1944. Mereka sudah memasuki wilayah Malinau (Sesayap). Pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Ibung Lasung lah yang pertama kali mengibarkan bendera merah putih di tanah Futa yang sekarang dinamakan Desa Paking.

           Selanjutnya, dengan bertambahnya pendatang untuk bergabung dengan Ibung Lasung bersaudara maka didirikanlah sebuah kampung yang bernama Paking dengan kepala desa yang pertama yaitu Ibung Lasung. Sampai saat ini, nama sungai, tempat, batu-batu dan gunung yang ada di daerah ini penamaannya oleh masyarakat Desa Paking dan sekitarnya tetap menggunakan Bahasa Abai. 

 

Yahhh sekian dulu cerita sejarahnya Desa Paking guyss sebenernya masih panjanggg namun terbatas oleh kata-kata dan pikiran penulis nihh. Semoga menambah wawasan ya mengenai suku-suku pedalaman di Indonesia. Semangaaaat bereksplorasi!


Salam dari Malinau, Kalimantan Utara :)