“MATAWANA”

Penulis: Faizal Rohmiani, 31 May 2022
image
Warga Wunlah menuju gereja untuk ibadah paskah setelah matawana

Malam ini tepat malam 17 april 2022, malam paskah. Bagi pemeluk agama islam seperti saya, dan latar belakang asal daerah yang mayoritas adalah muslim, tentunya tidak begitu mengerti ibadah yang dilakukan oleh umat Kristen atau umat agama lain. Sampai dengan malam ini, baru saya bergabung untuk bercengkerama bersama warga Wunlah, desa penempatan saya yang mayoritas adalah pemeluk Kristen protestan. Jadi, untuk masyarakat Wunlah, salah satu ibadah yang mereka lakukan untuk menyambut datangnya paskah, perayaan kebangkitan Yesus Kristus dari kubur pada hari ketiga setelah penyaliban adalah dengan melakukan matawana sampai pagi.


Matawana sendiri, berasal dari kata Mata dan Wana/ana. Mata artinya mati dan Wana artinya anak, sehingga matawana artinya adalah anak mati atau orang mati. Dahulu kala, Ketika ada orang atau anak yang meninggal dunia, maka dengan sendirinya masyarakat atau saudara-saudara akan melayat pada malam hari dan dilanjutkan tradisi matawana sambil melakukan ibadah sampai pagi hari. Dalam perkembangan zaman dan Bahasa, pengertian matawana itu bergeser menjadi pengertian yang lebih umum hingga sampai sekarang, yakni diartikan sebagai begadang oleh masyarakat setempat.